Friday, January 15, 2010

Mencapai Kesuksesan Sosial Dengan Kesucian Jiwa

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (Maryam: 96)



  Allah SWT melimpahkan rahmat dan nikmat kepada hamba-Nya ketika hati mereka menghadap kepada-Nya. Maka sebelum memberikan nikmat-nikmat_Nya, terlebih dahulu Allah SWT akan menjadikan hati-hati manusia tertuju kepada-Nya. Allah menjadikan manusia makhluk yang berbudi dan mempunyai rasa dan naluri untuk hidup dan berbahagia dengan lingkungan sekitarya. Sehingga sebuah kesuksesan dalam bersosial yang dapat diterima oleh semua kalangan di mana pun dia menginjakkan kaki adalah sebuah kesuksesan yang sebenarnya.
  Sungguh bahagia ketika seseorang menjadi tumpuan keridhaan dan keikhlasan hati sesamanya. Ketika berada di sekelilingnya menjadi tumpuan untuk melimpahkan rasa cinta dan dukungan dengan sepenuh hati, ketika jauh menjadi tempat orang untuk selalu merindukan dan menunggu kedatangannya. Yaitu pada saat hati seseorang itu ikhlas dengan segala tindakan, tingkah lakunya untuk mencapai keridhaan Allah Swt. Karena dengan demikian seseorang akan menumpahkan segala harapan dan cita-citanya kepada Allah Swt semata dengan tanpa mengharap pujian dan imbalan dari manusai atau makhluk yang berada di sekitarnya.

  Hidup dapat menjadi sarana untuk mengingatkan kembali manusia akan tujuan penciptaanya. Kedamaian, ketenangan, dan kebahagian buah dari ibadah yang akan dituai di masa yang akan datang. Setelah usaha itulah, baru kemudian manusia dituntut untuk menyerahkan dirinya kepada kehendak Yang Maha Kuasa. Di mana setiap tumpuan dan harapan akan dikembalikan dan disandarkan kepada Sang Khaliq, Penguasa Tunggal dan Pengatur alam semesta yang Maha Sempurna. Dengan demikian seorang manusia akan selalu berusaha untuk mencapai kesucian hati dan jiwa untuk selalu mendekatkan dirinya kepada yang Maha Suci lagi Sempurna.

  Segala tindakan dan apa yang diupayakan merupakan sarana untuk mendekatkan diri serta menjauhi segala larangan dan mentaati perintah Agama. Dengan demikian akan mudah untuk bertaubat dan memohon ampun atas kesalahan dan kedzoliman yang telah dilakukan. Sebagimana firman Allah dalam surat al-Imran ayat 135 sebagai berikut:
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S. 3 : Ali Imran : 135).
 
Hati dan karakter orang sukses
  Kesuksesan adalah obsesi setiap insan di dunia ini. Dengan berbagai macam usaha dan upaya orang akan berusaha untuk mencapai kesuksesan tersebut, meskipun tingkat kesuksesan satu sama lain itu berbeda-beda dan mempunyai perjalan yang berbeda pula untuk mencapai kesuksesannya. Begitu juga dalam kehidupan social, seseorang dapat diterima oleh semua kalangan dengan berbagai jalan dan proses yang tidak sebentar dan mudah. Dan itu semua berawal dari keadaan pribadi seseorang tersebut, apakah mentalnya telah siap untuk bergaul dengan orang banyak dengan segala resiko dan keadaan yang ada? Kesuciah hati adalah kuncinya, dan kesucian hati akan didapatkan melalui sepiritual.

  Orang yang sukses dalam kehidupan sosial adalah orang yang mempunyai kesucian hati dan budi pekerti yang luhur, ini adalah beberapa ciri orang yang mempunyai kesucian hati dan berkarakter sukses dalam kehidupan sosial adalah sebai berikut:
  Pertama, Muroqobah, yaitu suatu kondisi psikis yang selalu merasa diawasi dan dilihat oleh Allah, mempunyai jiwa ihsan sehingga hidupnya menjadi hati-hati dan selalu mawas diri, cepat menyadari kesalahan kemudian mohon ampun atas dosa-dosa dan memperbaiki dirinya. Apabila seseorang didalam menjalani kehidupan ini selalu merasakan bahwa Allah melihatnya, maka setiap perbuatannya akan selalu berada dijalan_Nya dan akan cepat melihat kesalahan dirinya apabila melakukan kedzaliman dan kembali kepada jalan yang Allah ridlai, begitu juga dalam kehidupan sosialnya dia akan selalu menjaga dirinya untuk tidak menyakiti dan mendzolimi sesamanya, adapun kalau tanpa sengaja telah menyakiti sesamanya dia akan segera meminta maaf akan kesalahannya.

  Kedua, Mudah tersentuh hatinya oleh nasehat, bersikap terbuka, rendah hati, ridha menerima kritik dan saran. Rendah hati adalah media untuk dapat mengetahui banyak informasi –mendapatkan banyak pengetahuan (ilmu) yang akan melahirkan sikap obyektif – arif dan bijaksana, mempunyai jiwa syukur dengan menggunakan hati, pendengaran dan penglihatannya dijalan kebenaran. Rendah hati bukan berarti minder, karena sikap minder itu akan menimbulkan kejanggalan-kejanggalan dalam pergaulan social serta menimbulkan ketidak-nyamanan. Rendah hati adalah sikap untuk tidak menonjolkan kemampuan atau kelebihan diri sendiri.

  Ketiga, Rindu kepada Allah, yang terekspresikan dengan selalu berkomunikasi dengan Allah melalui media shalat, zakat, shaum, dan seluruh dimensi kehidupannya ditujukan hanya untuk berzikir kepada Allah, ingin selalu dekat dengan Allah “mahabbah” sebagai ekspresi cinta kepada Allah. Serta diringi dengan cinta kasih kepada semua makhluk sebagai wujud cinta dan syukurnya kepada Allah Swt atas semtua anugrah yan gtelah diberikan kepadanya.

  Keempat, Mempunyai jiwa sosial yang tinggi, selain mampu berhubungan harmonis secara vertical kepada Allah Swt, tapi juga mampu mengimplementasikan dalam hubungan harmonis secara horizontal, dalam arti meng-internalisasikan sifat-sifat Allah Yang Maha Rahman, Maha Rahim, Maha Adil kedalam dirinya lalu mewujudkannya dalam berinteraksi, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun kehidupan social di sekelilingnya. Jiwa sosial yang tinggi akan melahirkan sikap lembut, hatinya hidup, penuh dengan keimanan, merasakan kehidupan yang beruntung karena mendapatkan keamanan dan ketentraman.

  Kelima, Mampu mengatur/mengendali-kan emosi secara proporsional. Apabila marah, maka dianjurkan untuk beristighfar kemudian berwudlu dan shalat. Shalat sebagai media untuk meredam amarah/emosi yaitu mampu hidup dengan berada dalam kesabaran. Dengan menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong.

  Keenam, Memiliki jiwa pemaaf. Merupakan sifat mulia yang diharapkan akan memberikan ketentraman bagi orang yang memilikinya dan orang yang berada disekitarnya. Dia akan begitu mudah memberikan maaf bila ada orang yang dengan sengaja atau tidak sengaja telah berbuat kesalahan kepadanya.

  Ketujuh, Dermawan dan Peka terhadap Lingkungan, Kedermawanan merupakan salah satu karakter utama yang senantiasa perlu dimiliki, ditumbuhkan, dan dikembangkan oleh setiap pribadi Muslim yang mengharapkan kesuksesan dalam hidup dan kehidupannya. Kedermawanan akan mengundang cinta dan kasih sayang dari Allah SWT dan dari sesama manusia. Sebaliknya, kebakhilan dan hanya mementingkan diri sendiri akan mengundang kemurkaan dari Allah Swt dan dari sesama manusia. Dalam hal ini tidak hanya yang bersifat materi belaka, berbagi informasi, pengalaman, pengetahuan dan ilmu yang dimiliki juga sangat penting dan akan mempererat tali silaturahmi yang terjalin.

  Kedelapan, Optimis, Komunikatif dan Tidak Membeda-bedakan Dalam Perhgaulan. Dalam kehidupan sehari-hari menampilkan sesuatu yang terbaik untuk diberikan kepada sesamanya dan komunikasi yang menyenagkan dengan tanpa membandingkan antara orang yang satu dengan yang lainnya melainkan memandang bahwa semua orang adalah perlu deperlakukan baik tanpa melihat latar belakangnya. Dengan sikap optimisnya memberikan semangat dan inspirasi bagi orang lain untuk selalu berbuat yang lebih baik dan terus berkembang.

  Kesuksesan seseorang, sangat ditentukan oleh kecerdasan spiritual dan karakternya. Seseorang akan sulit untuk mencapai sukses yang sebenarnya bila dia tidak memilikinya. Mungkin seseorang akan kaya, tapi tak akan pernah berbahagia. Mungkin seseorang bisa menepuk-nepuk dada sendiri, tapi pada saat yang sama dia juga adalah perusak di muka bumi. Jika demikian adanya seseorang, maka dia tiada berarti adanya untuk sebuah kesuksesan social pada dirinya maupun secara menyeluruh bagi orang-orang sekelilingnya.
Wallahu `alamu bisshowab…

No comments:

Post a Comment