Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (Maryam: 96)
Allah SWT melimpahkan rahmat dan nikmat kepada hamba-Nya ketika hati mereka menghadap kepada-Nya. Maka sebelum memberikan nikmat-nikmat_Nya, terlebih dahulu Allah SWT akan menjadikan hati-hati manusia tertuju kepada-Nya. Allah menjadikan manusia makhluk yang berbudi dan mempunyai rasa dan naluri untuk hidup dan berbahagia dengan lingkungan sekitarya. Sehingga sebuah kesuksesan dalam bersosial yang dapat diterima oleh semua kalangan di mana pun dia menginjakkan kaki adalah sebuah kesuksesan yang sebenarnya.
Sungguh bahagia ketika seseorang menjadi tumpuan keridhaan dan keikhlasan hati sesamanya. Ketika berada di sekelilingnya menjadi tumpuan untuk melimpahkan rasa cinta dan dukungan dengan sepenuh hati, ketika jauh menjadi tempat orang untuk selalu merindukan dan menunggu kedatangannya. Yaitu pada saat hati seseorang itu ikhlas dengan segala tindakan, tingkah lakunya untuk mencapai keridhaan Allah Swt. Karena dengan demikian seseorang akan menumpahkan segala harapan dan cita-citanya kepada Allah Swt semata dengan tanpa mengharap pujian dan imbalan dari manusai atau makhluk yang berada di sekitarnya.
Hidup dapat menjadi sarana untuk mengingatkan kembali manusia akan tujuan penciptaanya. Kedamaian, ketenangan, dan kebahagian buah dari ibadah yang akan dituai di masa yang akan datang. Setelah usaha itulah, baru kemudian manusia dituntut untuk menyerahkan dirinya kepada kehendak Yang Maha Kuasa. Di mana setiap tumpuan dan harapan akan dikembalikan dan disandarkan kepada Sang Khaliq, Penguasa Tunggal dan Pengatur alam semesta yang Maha Sempurna. Dengan demikian seorang manusia akan selalu berusaha untuk mencapai kesucian hati dan jiwa untuk selalu mendekatkan dirinya kepada yang Maha Suci lagi Sempurna.
Segala tindakan dan apa yang diupayakan merupakan sarana untuk mendekatkan diri serta menjauhi segala larangan dan mentaati perintah Agama. Dengan demikian akan mudah untuk bertaubat dan memohon ampun atas kesalahan dan kedzoliman yang telah dilakukan. Sebagimana firman Allah dalam surat al-Imran ayat 135 sebagai berikut:
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S. 3 : Ali Imran : 135).
Hati dan karakter orang sukses
Kesuksesan adalah obsesi setiap insan di dunia ini. Dengan berbagai macam usaha dan upaya orang akan berusaha untuk mencapai kesuksesan tersebut, meskipun tingkat kesuksesan satu sama lain itu berbeda-beda dan mempunyai perjalan yang berbeda pula untuk mencapai kesuksesannya. Begitu juga dalam kehidupan social, seseorang dapat diterima oleh semua kalangan dengan berbagai jalan dan proses yang tidak sebentar dan mudah. Dan itu semua berawal dari keadaan pribadi seseorang tersebut, apakah mentalnya telah siap untuk bergaul dengan orang banyak dengan segala resiko dan keadaan yang ada? Kesuciah hati adalah kuncinya, dan kesucian hati akan didapatkan melalui sepiritual.
Orang yang sukses dalam kehidupan sosial adalah orang yang mempunyai kesucian hati dan budi pekerti yang luhur, ini adalah beberapa ciri orang yang mempunyai kesucian hati dan berkarakter sukses dalam kehidupan sosial adalah sebai berikut:
Pertama, Muroqobah, yaitu suatu kondisi psikis yang selalu merasa diawasi dan dilihat oleh Allah, mempunyai jiwa ihsan sehingga hidupnya menjadi hati-hati dan selalu mawas diri, cepat menyadari kesalahan kemudian mohon ampun atas dosa-dosa dan memperbaiki dirinya. Apabila seseorang didalam menjalani kehidupan ini selalu merasakan bahwa Allah melihatnya, maka setiap perbuatannya akan selalu berada dijalan_Nya dan akan cepat melihat kesalahan dirinya apabila melakukan kedzaliman dan kembali kepada jalan yang Allah ridlai, begitu juga dalam kehidupan sosialnya dia akan selalu menjaga dirinya untuk tidak menyakiti dan mendzolimi sesamanya, adapun kalau tanpa sengaja telah menyakiti sesamanya dia akan segera meminta maaf akan kesalahannya.
Kedua, Mudah tersentuh hatinya oleh nasehat, bersikap terbuka, rendah hati, ridha menerima kritik dan saran. Rendah hati adalah media untuk dapat mengetahui banyak informasi –mendapatkan banyak pengetahuan (ilmu) yang akan melahirkan sikap obyektif – arif dan bijaksana, mempunyai jiwa syukur dengan menggunakan hati, pendengaran dan penglihatannya dijalan kebenaran. Rendah hati bukan berarti minder, karena sikap minder itu akan menimbulkan kejanggalan-kejanggalan dalam pergaulan social serta menimbulkan ketidak-nyamanan. Rendah hati adalah sikap untuk tidak menonjolkan kemampuan atau kelebihan diri sendiri.
Ketiga, Rindu kepada Allah, yang terekspresikan dengan selalu berkomunikasi dengan Allah melalui media shalat, zakat, shaum, dan seluruh dimensi kehidupannya ditujukan hanya untuk berzikir kepada Allah, ingin selalu dekat dengan Allah “mahabbah” sebagai ekspresi cinta kepada Allah. Serta diringi dengan cinta kasih kepada semua makhluk sebagai wujud cinta dan syukurnya kepada Allah Swt atas semtua anugrah yan gtelah diberikan kepadanya.
Keempat, Mempunyai jiwa sosial yang tinggi, selain mampu berhubungan harmonis secara vertical kepada Allah Swt, tapi juga mampu mengimplementasikan dalam hubungan harmonis secara horizontal, dalam arti meng-internalisasikan sifat-sifat Allah Yang Maha Rahman, Maha Rahim, Maha Adil kedalam dirinya lalu mewujudkannya dalam berinteraksi, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun kehidupan social di sekelilingnya. Jiwa sosial yang tinggi akan melahirkan sikap lembut, hatinya hidup, penuh dengan keimanan, merasakan kehidupan yang beruntung karena mendapatkan keamanan dan ketentraman.
Kelima, Mampu mengatur/mengendali-kan emosi secara proporsional. Apabila marah, maka dianjurkan untuk beristighfar kemudian berwudlu dan shalat. Shalat sebagai media untuk meredam amarah/emosi yaitu mampu hidup dengan berada dalam kesabaran. Dengan menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong.
Keenam, Memiliki jiwa pemaaf. Merupakan sifat mulia yang diharapkan akan memberikan ketentraman bagi orang yang memilikinya dan orang yang berada disekitarnya. Dia akan begitu mudah memberikan maaf bila ada orang yang dengan sengaja atau tidak sengaja telah berbuat kesalahan kepadanya.
Ketujuh, Dermawan dan Peka terhadap Lingkungan, Kedermawanan merupakan salah satu karakter utama yang senantiasa perlu dimiliki, ditumbuhkan, dan dikembangkan oleh setiap pribadi Muslim yang mengharapkan kesuksesan dalam hidup dan kehidupannya. Kedermawanan akan mengundang cinta dan kasih sayang dari Allah SWT dan dari sesama manusia. Sebaliknya, kebakhilan dan hanya mementingkan diri sendiri akan mengundang kemurkaan dari Allah Swt dan dari sesama manusia. Dalam hal ini tidak hanya yang bersifat materi belaka, berbagi informasi, pengalaman, pengetahuan dan ilmu yang dimiliki juga sangat penting dan akan mempererat tali silaturahmi yang terjalin.
Kedelapan, Optimis, Komunikatif dan Tidak Membeda-bedakan Dalam Perhgaulan. Dalam kehidupan sehari-hari menampilkan sesuatu yang terbaik untuk diberikan kepada sesamanya dan komunikasi yang menyenagkan dengan tanpa membandingkan antara orang yang satu dengan yang lainnya melainkan memandang bahwa semua orang adalah perlu deperlakukan baik tanpa melihat latar belakangnya. Dengan sikap optimisnya memberikan semangat dan inspirasi bagi orang lain untuk selalu berbuat yang lebih baik dan terus berkembang.
Kesuksesan seseorang, sangat ditentukan oleh kecerdasan spiritual dan karakternya. Seseorang akan sulit untuk mencapai sukses yang sebenarnya bila dia tidak memilikinya. Mungkin seseorang akan kaya, tapi tak akan pernah berbahagia. Mungkin seseorang bisa menepuk-nepuk dada sendiri, tapi pada saat yang sama dia juga adalah perusak di muka bumi. Jika demikian adanya seseorang, maka dia tiada berarti adanya untuk sebuah kesuksesan social pada dirinya maupun secara menyeluruh bagi orang-orang sekelilingnya.
Wallahu `alamu bisshowab…
Friday, January 15, 2010
Wednesday, January 13, 2010
Muhasabah Diri Menggapai Masa Depan
Di akhir tahun 2009 Masehi dan tahun 1430 Hijriyah, ada baiknya kita mengevaluasi apa yang telah kita lakukan dan persiapan untuk menggapai masa depan yang lebih baik, hal tersebut diisyaratkan oleh Allah Swt. Dalam firmannya surat al-Hasyr : (59 : 18)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri, mengevaluasi kembali apa yang telah dilakukan untuk menata hari esok. Dan bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”.
Menurut tafsir Syekh Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi dalam kitabnya Ruhul Ma'ani : " setiap perbuatan manusia yang telah dilakukan pada masa lalu, mencerminkan perbuatan dia untuk persiapan diakhirat kelak. Karena hidup didunia bagaikan satu hari dan keesokan harinya merupakan hari akherat, merugilah manusia yang tidak mengetahui tujuan utamanya".
Jika kita berfikir tujuan utama manusia hidup didunia ialah mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal yaitu akherat, lalu sudahkah perbuatan yang telah dilakukan kita merupakan manifestasi kecintaan kita kepada Allah Swt?.
Cermin yang paling baik adalah masa lalu, setiap individu memiliki masa lalu yang baik ataupun buruk, dan sebaik-baik manusia adalah selalu mengevaluasi dengan bermuhasabah diri dalam setiap perbuatan yang telah ia lakukan. Sebagaimana pesan Sahabat Nabi Amirul Mukminin Umar bin Khottob : " حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا "
" Evaluasilah (Hisablah) dirimu sebelum kalian dihisab dihadapan Allah kelak"
Pentingnya setiap individu menghisab dirinya sendiri untuk selalu mengintrospeksi tingkat nilai kemanfaatan dia sebagai seorang hamba Allah Swt. yang segala sesuatunya akan dimintai pertanggungjawabannya diakherat kelak. Dan sebaik-baik manusia adalah yang dapat mengambil hikmah dari apa yang telah ia lakukan, lalu menatap hari esok yang lebih baik. Sebagaimana Dalam sebuah ungkapan yang sangat terkenal Rasulullah Saw bersabda, yang artinya : “Barang siapa yang hari ini, tahun ini lebih baik dari hari dan tahun yang lalu, dialah orang yang sukses, tapi siapa yang hari dan tahun ini sama hari dan tahun kemarin maka dia orang yang tertipu, dan siapa yang hari dan tahun ini lebih buruk dairpada hari dan tahun kemarin maka dialah orang yang terlaknat”
Untuk itu, takwa harus senantiasa menjadi bekal dan perhiasan kita setiap tahun, ada baiknya kita melihat kembali jalan untuk menuju takwa. Para ulama menyatakan setidaknya ada lima jalan yang patut kita renungkan mengawali tahun ini dalam menggapai ketakwaan. Jalan-jalan itu adalah:
1. Muhasabah
Yaitu evaluasi diri dan meningkatkan kualitas diri dengan selalu mengambil hikmah dari setiap sesuatu yang terjadi dalam diri kita.
2. Mu’ahadah
Yaitu mengingat-ingat kembali janji yang pernah kita katakan. Setiap saat, setiap shalat kita seringkali bersumpah kepada Allah : إيّاك نعبد و إيّاك نستعين
Hanya kepada-Mu-lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolong. Kemudian kita berjanji ; ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين إن صلاتي “Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Rabb semesta alam”. Dengan demikian, ada baiknya kita kembali mengingat-ingat janji dan sumpah kita. Semakin sering kita mengingat janji, insya Allah kita akan senantiasa menapaki kehidupan ini dengan nilai-nilai ketakwaan. Inilah yang disebut dengan mua’ahadah.
3. Mujahadah
Adalah bersungguh-sungguh kepada Allah Swt. Allah menegaskan dalam firmannya : والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا
Orang-orang yang sungguh (mujahadah) dijalan Kami, Kami akan berikan hidayah kejalan kami.
Terkadang kita ibadah tidak dibarengi dengan kesungguhan, hanya menggugurkan kewajiban saja, takut jatuh kedalam dosa dan menapaki kehidupan beragama asal-asalan. Padahal bagi seorang muslim yang ingin menjadi orang-orang yang bertakwa, maka mujahadah atau penuh kesungguhan adalah bagian tak terpisahkan dalam menggapai ketakwaan disamping muhasabah dan mu’ahadah.
4. Muraqabah
Adalah senantiasa merasa diawasi oleh Allah Swt. Inilah diantara pilar ketakwaan yang harus dimiliki setiap kali kita mengawali awal tahun dan menutup tahun yang lalu. Perasaan selalu merasa diawasi oleh Allah dalam bahasa hadisnya adalah Ihsan.
”الإحسان هو أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك"
artinya :“Ihsan adalah engkau senantiasa beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, kalau pun engkau belum bisa melihat-Nya, ketahuilah sesungguhnya Allah melihat kepadamu”.
Muraqabah atau ihsan adalah diantara jalan ketakwaan yang harus kita persiapkan dalam menyongsong dan mengisi lembaran tahun baru.
Dulu dimasa sahabat, sikap muraqabah tertanam dengan baik dihati setiap kaum muslimin. Kita bisa ambil sebuah contoh kisah. Suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Khattab bertemu dengan seorang anak gembala yang sedang menggembalakan kambing-kambingnya. Umar berkata kepada anak tersebut: Wahai anak gembala, juallah kepada saya seekor kambingmu! Si anak gembala menjawab : Kambing-kambing ini ada pemliknya, saya hanya sekedar menggembalakannya saja. Umar lalu berkata : Sudahlah, katakan saja kepada tuanmu, mati dimakan serigala kalau hilang satu tidak akan ketahuan. Dengan tegas si anak itu menjawab : Jika demikian, dimanakah Allah itu? Umar demi mendengar jawaban si anak gembala ia pun menangis dan kemudian memerdekakannya.
Lihatlah, seorang anak gembala yang tidak berpendidikan dan hidup didalam kelas sosial yang rendah tetapi memiliki sifat yang sangat mulia yaitu sifat merasa selalu diawasi oleh Allah dalam segala hal. Itulah yang disebut dengan muraqabah. Muraqabah adalah hal yang sangat penting ketika kita ingin menjadikan takwa sebagai bekal hidup kita ditahun ini dan tahun yang akan datang. Jika sikap ini dimiliki oleh setiap muslim, insya Allah kita tidak akan terjerumus pada perbuatan maksiat. Imam Ghazali mengatakan : ‘Aku yakin dan percaya bahwa Allah selalu melihatku maka aku malu berbuat maksiat kepada-Nya”.
5. Mu’aqobah
Artinya, mencoba memberi sanksi kepada diri manakala diri melakukan sebuah kekhilafan, memberikan teguran dan sanksi kepada diri kalau diri melakukan kesalahan. Ini penting dilakukan agar kita senantiasa meningkatkan amal ibadah kita. Manakala kita terlewat shalat subuh berjamaah maka hukumlah diri dengan infak disiang hari, misalnya. Manakala diri terlewat membaca al-Qur’an ‘iqoblah diri dengan memberi bantuan kepada simiskin. Kalau diri melewatkan sebuah amal shaleh maka hukumlah diri kita sendiri dengan melakukan amal shaleh yang lain. Inilah yang disebut mu’aqabah. Jika sikap ini selalu kita budayakan, insya Allah kita akan selalu mampu meningkatkan kualitas ibadah dan diri kita.
Mengawali tahun 2009 Masehi dan tahun 1429 Hijriyah ini, mari takwa harus kita jadikan hiasan diri, bekal diri, dengan menempuh lima cara tadi. Yaitu muhasabah, muahadah, mujahadah, muraqabah dan mu’aqabah. Evaluasi diri, mengingat-ingat janji diri, punya kesungguhan diri, selalu merasa diawasi Allah dan memberikan hukuman terhadap diri kita sendiri. Jika lima hal ini kita jadikan bekal Insya Allah menapaki hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun kita akan selalu menapakinya dengan indah dan selalu meningkat kualitas diri kita, insya Allah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri, mengevaluasi kembali apa yang telah dilakukan untuk menata hari esok. Dan bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”.
Menurut tafsir Syekh Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi dalam kitabnya Ruhul Ma'ani : " setiap perbuatan manusia yang telah dilakukan pada masa lalu, mencerminkan perbuatan dia untuk persiapan diakhirat kelak. Karena hidup didunia bagaikan satu hari dan keesokan harinya merupakan hari akherat, merugilah manusia yang tidak mengetahui tujuan utamanya".
Jika kita berfikir tujuan utama manusia hidup didunia ialah mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal yaitu akherat, lalu sudahkah perbuatan yang telah dilakukan kita merupakan manifestasi kecintaan kita kepada Allah Swt?.
Cermin yang paling baik adalah masa lalu, setiap individu memiliki masa lalu yang baik ataupun buruk, dan sebaik-baik manusia adalah selalu mengevaluasi dengan bermuhasabah diri dalam setiap perbuatan yang telah ia lakukan. Sebagaimana pesan Sahabat Nabi Amirul Mukminin Umar bin Khottob : " حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا "
" Evaluasilah (Hisablah) dirimu sebelum kalian dihisab dihadapan Allah kelak"
Pentingnya setiap individu menghisab dirinya sendiri untuk selalu mengintrospeksi tingkat nilai kemanfaatan dia sebagai seorang hamba Allah Swt. yang segala sesuatunya akan dimintai pertanggungjawabannya diakherat kelak. Dan sebaik-baik manusia adalah yang dapat mengambil hikmah dari apa yang telah ia lakukan, lalu menatap hari esok yang lebih baik. Sebagaimana Dalam sebuah ungkapan yang sangat terkenal Rasulullah Saw bersabda, yang artinya : “Barang siapa yang hari ini, tahun ini lebih baik dari hari dan tahun yang lalu, dialah orang yang sukses, tapi siapa yang hari dan tahun ini sama hari dan tahun kemarin maka dia orang yang tertipu, dan siapa yang hari dan tahun ini lebih buruk dairpada hari dan tahun kemarin maka dialah orang yang terlaknat”
Untuk itu, takwa harus senantiasa menjadi bekal dan perhiasan kita setiap tahun, ada baiknya kita melihat kembali jalan untuk menuju takwa. Para ulama menyatakan setidaknya ada lima jalan yang patut kita renungkan mengawali tahun ini dalam menggapai ketakwaan. Jalan-jalan itu adalah:
1. Muhasabah
Yaitu evaluasi diri dan meningkatkan kualitas diri dengan selalu mengambil hikmah dari setiap sesuatu yang terjadi dalam diri kita.
2. Mu’ahadah
Yaitu mengingat-ingat kembali janji yang pernah kita katakan. Setiap saat, setiap shalat kita seringkali bersumpah kepada Allah : إيّاك نعبد و إيّاك نستعين
Hanya kepada-Mu-lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolong. Kemudian kita berjanji ; ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين إن صلاتي “Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Rabb semesta alam”. Dengan demikian, ada baiknya kita kembali mengingat-ingat janji dan sumpah kita. Semakin sering kita mengingat janji, insya Allah kita akan senantiasa menapaki kehidupan ini dengan nilai-nilai ketakwaan. Inilah yang disebut dengan mua’ahadah.
3. Mujahadah
Adalah bersungguh-sungguh kepada Allah Swt. Allah menegaskan dalam firmannya : والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا
Orang-orang yang sungguh (mujahadah) dijalan Kami, Kami akan berikan hidayah kejalan kami.
Terkadang kita ibadah tidak dibarengi dengan kesungguhan, hanya menggugurkan kewajiban saja, takut jatuh kedalam dosa dan menapaki kehidupan beragama asal-asalan. Padahal bagi seorang muslim yang ingin menjadi orang-orang yang bertakwa, maka mujahadah atau penuh kesungguhan adalah bagian tak terpisahkan dalam menggapai ketakwaan disamping muhasabah dan mu’ahadah.
4. Muraqabah
Adalah senantiasa merasa diawasi oleh Allah Swt. Inilah diantara pilar ketakwaan yang harus dimiliki setiap kali kita mengawali awal tahun dan menutup tahun yang lalu. Perasaan selalu merasa diawasi oleh Allah dalam bahasa hadisnya adalah Ihsan.
”الإحسان هو أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك"
artinya :“Ihsan adalah engkau senantiasa beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, kalau pun engkau belum bisa melihat-Nya, ketahuilah sesungguhnya Allah melihat kepadamu”.
Muraqabah atau ihsan adalah diantara jalan ketakwaan yang harus kita persiapkan dalam menyongsong dan mengisi lembaran tahun baru.
Dulu dimasa sahabat, sikap muraqabah tertanam dengan baik dihati setiap kaum muslimin. Kita bisa ambil sebuah contoh kisah. Suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Khattab bertemu dengan seorang anak gembala yang sedang menggembalakan kambing-kambingnya. Umar berkata kepada anak tersebut: Wahai anak gembala, juallah kepada saya seekor kambingmu! Si anak gembala menjawab : Kambing-kambing ini ada pemliknya, saya hanya sekedar menggembalakannya saja. Umar lalu berkata : Sudahlah, katakan saja kepada tuanmu, mati dimakan serigala kalau hilang satu tidak akan ketahuan. Dengan tegas si anak itu menjawab : Jika demikian, dimanakah Allah itu? Umar demi mendengar jawaban si anak gembala ia pun menangis dan kemudian memerdekakannya.
Lihatlah, seorang anak gembala yang tidak berpendidikan dan hidup didalam kelas sosial yang rendah tetapi memiliki sifat yang sangat mulia yaitu sifat merasa selalu diawasi oleh Allah dalam segala hal. Itulah yang disebut dengan muraqabah. Muraqabah adalah hal yang sangat penting ketika kita ingin menjadikan takwa sebagai bekal hidup kita ditahun ini dan tahun yang akan datang. Jika sikap ini dimiliki oleh setiap muslim, insya Allah kita tidak akan terjerumus pada perbuatan maksiat. Imam Ghazali mengatakan : ‘Aku yakin dan percaya bahwa Allah selalu melihatku maka aku malu berbuat maksiat kepada-Nya”.
5. Mu’aqobah
Artinya, mencoba memberi sanksi kepada diri manakala diri melakukan sebuah kekhilafan, memberikan teguran dan sanksi kepada diri kalau diri melakukan kesalahan. Ini penting dilakukan agar kita senantiasa meningkatkan amal ibadah kita. Manakala kita terlewat shalat subuh berjamaah maka hukumlah diri dengan infak disiang hari, misalnya. Manakala diri terlewat membaca al-Qur’an ‘iqoblah diri dengan memberi bantuan kepada simiskin. Kalau diri melewatkan sebuah amal shaleh maka hukumlah diri kita sendiri dengan melakukan amal shaleh yang lain. Inilah yang disebut mu’aqabah. Jika sikap ini selalu kita budayakan, insya Allah kita akan selalu mampu meningkatkan kualitas ibadah dan diri kita.
Mengawali tahun 2009 Masehi dan tahun 1429 Hijriyah ini, mari takwa harus kita jadikan hiasan diri, bekal diri, dengan menempuh lima cara tadi. Yaitu muhasabah, muahadah, mujahadah, muraqabah dan mu’aqabah. Evaluasi diri, mengingat-ingat janji diri, punya kesungguhan diri, selalu merasa diawasi Allah dan memberikan hukuman terhadap diri kita sendiri. Jika lima hal ini kita jadikan bekal Insya Allah menapaki hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun kita akan selalu menapakinya dengan indah dan selalu meningkat kualitas diri kita, insya Allah.
Subscribe to:
Posts (Atom)